"Seribu Kebaikan Tak Menjadikan Malaikat, Satu Kesalahan Bisa Membuat Jadi Iblis" : IHSAN Kupas Fenomena Penghakiman Manusia dari Perspektif Teologis hingga Sosiologis
Oleh : IHSAN, S.Pd.I., M.Pd, Mahasiswa Program Doktor (S3) UMSB sekaligus Guru MTsN 5 Kota Padang.
SKJENIUS TIME LINE,Padang – Fenomena manusia yang cenderung melupakan ribuan kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan menjadi sorotan dalam sebuah telaah ilmiah dan reflektif yang ditulis oleh IHSAN, S.Pd.I., M.Pd, Mahasiswa Program Doktor (S3) UMSB sekaligus Guru MTsN 5 Kota Padang.
Melalui tulisannya yang berjudul "Seribu Kebaikan Tidak Menjadikanmu Malaikat, Namun Satu Kesalahan Bisa Membuatmu Jadi Iblis", IHSAN mengulas secara mendalam fenomena penghakiman manusia dari perspektif teologis, psikologis, sosiologis, dan spiritual.
Menurutnya, tulisan tersebut bukan sekadar nasihat moral, melainkan refleksi atas paradoks kehidupan manusia yang sering kali mengabaikan banyak kebaikan seseorang dan justru membesar-besarkan satu kesalahan yang pernah dilakukan.
Dalam perspektif Islam, jelas IHSAN, manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW bahwa setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat. Oleh karena itu, mengharapkan manusia terbebas dari kesalahan merupakan sesuatu yang bertentangan dengan fitrahnya.
Ia juga mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang menyebutkan bahwa kesempurnaan manusia bukan terletak pada tidak pernah jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit setiap kali terjatuh dalam kesalahan.
Dari sisi psikologi modern, IHSAN menjelaskan adanya konsep Negativity Bias, yaitu kecenderungan otak manusia untuk lebih mudah mengingat pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Akibatnya, seribu kebaikan sering dianggap biasa, sementara satu kesalahan dipandang luar biasa hingga menutupi seluruh jasa yang pernah diberikan seseorang.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya budaya penghakiman yang berlebihan. Al-Qur'an, melalui Surah Al-Hujurat ayat 12, telah memperingatkan umat manusia agar menjauhi prasangka karena sebagian prasangka merupakan dosa. Budaya menghakimi yang berkembang di tengah masyarakat dapat menghancurkan reputasi, merusak hubungan sosial, serta menghilangkan semangat saling memaafkan.
Dalam telaahnya, IHSAN juga menyoroti pentingnya keadilan dalam menilai seseorang. Menurutnya, melupakan jasa dan hanya fokus pada kesalahan merupakan bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan terhadap orang yang tidak disukai sekalipun, umat Islam diperintahkan untuk tetap berlaku adil sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma'idah ayat 8.
Dari perspektif spiritual, ia menegaskan bahwa orang yang bijaksana akan lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada menghakimi orang lain. Pandangan ini sejalan dengan pesan para ulama dan tokoh sufi yang menekankan pentingnya introspeksi diri sebagai jalan menuju kedewasaan spiritual.
Sementara itu, dari sudut pandang sosiologi, budaya menghakimi menunjukkan menurunnya empati sosial dalam kehidupan masyarakat modern. Di era media sosial saat ini, seseorang dapat menjadi sasaran hujatan massal hanya karena satu kesalahan, sementara seluruh kontribusi dan kebaikan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun justru terlupakan.
Pada bagian akhir tulisannya, IHSAN mengajak masyarakat untuk tetap berbuat baik dengan penuh keikhlasan karena Allah SWT, bukan semata-mata mengharapkan pujian manusia. Sebab penghargaan manusia dapat berubah sewaktu-waktu, sedangkan nilai seseorang di hadapan Allah SWT ditentukan oleh keikhlasan, kesabaran, dan kesungguhan dalam memperbaiki diri.
"Ketika satu kesalahan membuat orang melupakan seluruh jasa kita, jangan kehilangan arah. Sebab nilai seseorang di sisi manusia dapat berubah setiap saat, tetapi nilai seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh pujian maupun hujatan manusia," ungkapnya.
Melalui tulisan tersebut, IHSAN berharap masyarakat dapat membangun budaya yang lebih adil, penuh empati, dan mengedepankan sikap saling memaafkan, sehingga tercipta kehidupan sosial yang lebih harmonis dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan serta ajaran agama.(Mislinda)

