Miris! Proyek JIAT BWSS V Sumbar Terlambat, Harapan Petani Bungus Nikmati Irigasi Pupus
SKJENIUS TIME LINE,PADANG – Harapan para petani di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, untuk segera menikmati manfaat pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) harus tertunda. Proyek yang diharapkan mampu mengatasi kekurangan air saat musim kemarau itu dilaporkan belum rampung meski masa kontraknya telah berakhir, sehingga sejumlah kelompok tani (Poktan) mengaku kecewa karena belum dapat memanfaatkan fasilitas tersebut.
Program JIAT yang dibangun melalui Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) PJPA WS IAKR Provinsi Sumatera Barat di bawah Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) sejatinya ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan air irigasi bagi lahan pertanian di Bungus dan sekitarnya. Namun berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, masih ditemukan sejumlah titik pekerjaan yang belum selesai, bahkan ada yang belum dikerjakan sama sekali.
Proyek tersebut dilaksanakan berdasarkan Kontrak Nomor HK.02.03/01/SNVT-PJPA-WS-IAKR/ATAP-II/IX/2025 tanggal 15 September 2025 dengan nilai Rp13,976 miliar yang bersumber dari APBN dan dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero). Sesuai kontrak, pekerjaan memiliki masa pelaksanaan selama 228 hari kalender dan seharusnya selesai pada 31 Maret 2026.
Namun hingga pertengahan Juli 2026, hasil pemantauan tim investigasi menunjukkan progres pekerjaan belum sepenuhnya tuntas. Dari delapan titik Poktan penerima program JIAT, hanya beberapa lokasi yang telah selesai, sementara lainnya masih dalam tahap pengerjaan bahkan ada yang belum dimulai.
Di Kampung Kandangan, bangunan JIAT memang telah selesai dibangun, namun belum dapat dimanfaatkan karena belum dioperasikan. Warga mengaku kecewa lantaran mesin dan jaringan belum difungsikan sehingga kebutuhan air sawah masih belum terpenuhi.
"Semenjak JIAT di Desa Kandangan ini selesai, pemakaian dan operasionalnya belum digunakan. Pintunya saja masih dikunci sampai sekarang," ujar Ita, salah seorang petani setempat.
Sementara itu, di kawasan Perumnas Jeruai Bungus masih terlihat pekerja melakukan penyelesaian beberapa bagian pondasi dan fasilitas pendukung yang belum rampung.
"Kami hanya merapikan bagian pondasi yang masih perlu diselesaikan," kata Adi, salah seorang pekerja proyek.
Kondisi lebih memprihatinkan ditemukan di Poktan Kayu Aro. Selain lokasi yang berada di tengah persawahan dengan akses terbatas, mesin dinamo sebagai penggerak pompa air dilaporkan mengalami kerusakan sehingga tidak dapat mengalirkan air ke lahan pertanian.
"Sudah beberapa bulan mesin dinamo JIAT di desa kami rusak, sehingga petani hanya berharap hujan untuk mengairi sawah mereka," ungkap seorang warga.
Di Kampung Rambutan Bungus, warga bahkan menyebut proyek JIAT yang direncanakan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pelaksanaan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) JIAT BWSS V Sumbar, Dian Citra Wibowo, menjelaskan bahwa pekerjaan memang belum selesai 100 persen. Menurutnya, progres fisik per 29 Juni 2026 mencapai 93,16 persen dan kontraktor dikenakan denda keterlambatan sesuai ketentuan. Ia juga menegaskan proyek tersebut belum diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Padang sehingga belum dapat dioperasikan.
Sementara itu, hingga berita ini disusun, Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V, Rizki, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang disampaikan tim media.
Keterlambatan proyek ini memunculkan berbagai pertanyaan dari masyarakat, terutama mengenai kepastian penyelesaian pekerjaan, penerapan sanksi terhadap kontraktor, serta kapan jaringan irigasi tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh para petani yang telah lama menantikan pasokan air untuk meningkatkan produktivitas pertanian mereka.(Mislinda)

