Kakankemenag Kota Padang di Masjid Besar Baitussalam: Puasa Antar Umat Menuju Derajat Insanul Kamil
SKJENIUS TIME LINE,PADANG – Ribuan jamaah memadati Masjid Besar Baitussalam untuk mengikuti tausiyah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang, H. Edy Oktafiandi, S.Ag., M.Pd. Suasana khidmat dan penuh antusiasme menyelimuti masjid saat beliau mengupas makna puasa sebagai jalan transformasi spiritual menuju derajat Insanul Kamil—manusia yang sempurna dalam kualitas kebaikannya.
Dalam ceramahnya yang bernas dan menyentuh, H. Edy Oktafiandi menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ikhtiar serius membentuk pribadi bertaqwa. Menurutnya, predikat taqwa bukanlah janji kosong. “Puasa adalah ikhtiar manusia agar bertaqwa. Jika aturan Allah dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh, maka Allah menjamin perubahan derajat itu. Inilah hakikat puasa: membentuk hamba menjadi Ihsanul Kamil,” tegasnya di hadapan jamaah.
Acara yang dipandu Erlim Munir, SH tersebut turut dihadiri Penasehat Pengurus Masjid Prof. Dr. Ismansyah, Ketua Pengurus Masjid Prof. Ir. Yonariza, M.Sc., Ph.D, serta Penyuluh Agama Islam Dr. H. Zainal A. Haris, S.Ag., M.Si, beserta jajaran pengurus masjid lainnya.
Tiga Indikator Keberhasilan Puasa
Dalam paparannya, Kakankemenag memetakan tiga dampak nyata puasa yang menjadi tolok ukur keberhasilannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, kecerdasan spiritual.
Puasa melatih kesadaran muraqabah—merasa selalu diawasi Allah. “Takut pada atasan atau pasangan itu biasa. Tapi saat berpuasa, meski tak ada manusia yang melihat, kita tetap patuh karena sadar Allah Robbul Jalil terus memperhatikan,” ujarnya. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi lahirnya pribadi yang jujur dan bertanggung jawab.
Kedua, kecerdasan sosial.
Puasa sejatinya melahirkan empati dan kepedulian. Ia mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam sifat kikir atau dalam istilah Minang disebut sampilik kariang. Dengan gaya bahasa khas yang mengundang senyum sekaligus perenungan, beliau menyindir mentalitas pelit melalui perumpamaan: “Nyo takaja Honda bairiak, nyo kehujanan payung dikapik, nyo taragak makan ayam tunggu ayam sakik.” Sindiran itu menjadi pesan tegas bahwa puasa harus melahirkan kedermawanan, bukan sekadar menahan lapar.
Ketiga, kecerdasan muamalah.
Puasa adalah latihan integritas. Jika yang halal saja berani ditinggalkan demi perintah Allah, maka yang haram seharusnya lebih mudah ditolak. “Orang yang cerdas muamalahnya akan berani menolak judi online, riba, perkara syubhat, apalagi yang jelas haram,” tambahnya, menegaskan pentingnya konsistensi moral dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Ribuan Jamaah Antusias
Kehadiran ribuan jamaah yang memadati ruang utama hingga selasar masjid menjadi bukti besarnya kerinduan masyarakat terhadap siraman rohani yang mencerahkan dan aplikatif. Tausiyah tersebut diharapkan menjadi pelecut semangat umat Islam di Kota Padang untuk menjalani sisa Ramadhan dengan kualitas ibadah yang lebih bermakna dan berdampak nyata dalam kehidupan.(Mislinda)

