Persiapan Menjelang Ramadhan dengan Taubat Nasuha: Momentum Membersihkan Dosa dan Menata Ulang Kehidupan
Oleh : IHSAN,Mahasiswa S3(Doktoral)UM SUMBAR,Guru MTsN 5 Kota Padang
SKJENIUS TIME LINE,Padang --Padang 17 Februari 2026 Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam diajak tidak sekadar mempersiapkan diri secara lahiriah, tetapi juga membenahi batin secara menyeluruh. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang proses penyucian diri menuju derajat takwa sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: “...diwajibkan atas kamu berpuasa... agar kamu bertakwa.”
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah taubat nasuha, yakni taubat yang sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 8, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” Ulama besar seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taubat nasuha mencakup tiga hal: meninggalkan dosa, menyesalinya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali. Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk membersihkan lembaran hidup sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Selain taubat, meluruskan dan memperkuat niat menjadi fondasi utama ibadah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” Bahkan, siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ini menunjukkan bahwa kualitas niat menentukan nilai ibadah di sisi Allah.
Persiapan berikutnya adalah membekali diri dengan ilmu tentang puasa. Dalam QS. An-Nahl ayat 43 ditegaskan, “Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Memahami rukun, syarat sah, pembatal puasa, zakat fitrah, hingga adab Ramadhan menjadi bekal agar ibadah tidak sekadar rutinitas, tetapi benar dan bernilai.
Ramadhan juga menjadi madrasah pembersih hati. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 89, “Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” Menurut tafsir Ibnu Katsir, hati yang selamat adalah hati yang bersih dari syirik dan penyakit batin. Sementara Buya Hamka menegaskan bahwa dendam, iri, dan dengki dapat menghalangi keberkahan Ramadhan. Karena itu, saling memaafkan sebelum bulan suci tiba adalah langkah bijak untuk membuka pintu rahmat.
Latihan ibadah juga dianjurkan sejak bulan Sya’ban. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Aisyah r.a. menyebutkan bahwa Rasulullah SAW paling banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban. Ulama seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa puasa Sya’ban merupakan latihan spiritual menuju Ramadhan, agar jiwa tidak kaget menghadapi intensitas ibadah yang lebih tinggi.
Tak kalah penting, menjaga fisik dan kesehatan juga bagian dari persiapan. Allah mengingatkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 195, “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan.” Mengatur pola makan, mengurangi begadang, serta memperbanyak istighfar adalah ikhtiar agar tubuh tetap prima selama menjalani ibadah puasa.
Akhirnya, memperbanyak doa agar dipertemukan dengan Ramadhan menjadi penutup persiapan. Doa yang masyhur di tengah umat Islam, “Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan”, mencerminkan kerinduan mendalam agar Allah memberi kesempatan menikmati bulan penuh rahmat tersebut.
Dengan demikian, persiapan menyambut Ramadhan meliputi taubat dan pembersihan dosa, meluruskan niat, menuntut ilmu, membersihkan hati, latihan ibadah di Sya’ban, menjaga kesehatan, serta memperbanyak doa. Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum transformasi diri menuju pribadi yang lebih bertakwa, bersih hati, dan kuat iman.(Ihsan)

