Type Here to Get Search Results !

Hardiknas dan Tantangan PAI di Era Digital: Menjaga Akhlak di Tengah Arus Teknologi Oleh : IHSAN, S.Pd.I M.Pd (Mahasiswa S3 Study Islam UMSB)

 Hardiknas dan Tantangan PAI di Era Digital: Menjaga Akhlak di Tengah Arus Teknologi

Oleh : IHSAN, S.Pd.I M.Pd (Mahasiswa S3 Study Islam UMSB)

SKJENIUS TIME LINE,Padang  – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap 2 Mei menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk merefleksikan arah dan masa depan pendidikan. Tanggal ini dipilih untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan nasional yang menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan manusia, baik secara intelektual maupun moral.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dunia pendidikan mengalami transformasi signifikan. Proses belajar mengajar kini tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan meluas ke berbagai platform digital seperti internet, aplikasi pembelajaran, dan media sosial. Akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi semakin terbuka dan tanpa batas.

Namun demikian, kemajuan ini juga membawa tantangan tersendiri. Arus informasi yang tidak terfilter, maraknya konten negatif, serta budaya instan berpotensi memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda. Dalam kondisi ini, pendidikan tidak cukup hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga harus memperkuat nilai moral dan spiritual peserta didik.

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut. PAI tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu agama, tetapi juga sebagai fondasi dalam membentuk karakter, akhlak, serta tanggung jawab sosial peserta didik. Di era digital, PAI dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif dalam metode pembelajarannya.

Guru PAI diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran dan dakwah, seperti penggunaan video edukatif, aplikasi Al-Qur’an digital, hingga forum diskusi online yang sehat dan konstruktif. Selain itu, literasi digital berbasis nilai Islam juga menjadi hal penting yang perlu ditanamkan kepada peserta didik.

Beberapa nilai yang perlu ditekankan antara lain penggunaan media sosial secara bijak, menjaga etika komunikasi di dunia maya, menghindari penyebaran hoaks dan fitnah, serta memanfaatkan teknologi untuk tujuan kebaikan dalam semangat amar ma’ruf nahi munkar.

Integrasi antara nilai-nilai Islam dan teknologi juga perlu diperkuat melalui pengembangan kurikulum PAI berbasis digital, mendorong siswa untuk menciptakan konten positif, serta menerapkan metode pembelajaran interaktif yang relevan dengan perkembangan zaman. Hal ini penting agar teknologi tidak hanya menjadi alat konsumsi, tetapi juga sarana produktivitas yang bernilai.

Peringatan Hardiknas tahun ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus bersifat holistik, tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membangun kekuatan iman dan akhlak. Sejalan dengan cita-cita Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus mampu menuntun segala potensi anak agar menjadi manusia yang berkarakter, cerdas, dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Dengan memadukan kemajuan teknologi dan nilai-nilai keislaman, diharapkan pendidikan di Indonesia mampu melahirkan generasi unggul yang berintegritas serta siap menghadapi tantangan global di masa depan.(Mislinda)