“Hati, Nafsu, dan Jalan Menuju Makrifat: Kajian Spiritual-Ilmiah Soroti Krisis Ruhani di Era Modern”
Oleh : IHSAN, S.Pd.I M.Pd (Mahasiswa S3 Study Islam UMSB)
SKJENIUS TIME,Pariaman, —Fenomena krisis ruhani di tengah derasnya arus informasi modern menjadi sorotan dalam sebuah kajian bertajuk “Hati, Nafsu, dan Jalan Menuju Makrifat: Sebuah Kajian Spiritual-Ilmiah” yang ditulis oleh Ihsan. Tulisan ini mengangkat refleksi mendalam tentang kondisi manusia yang kaya pengetahuan, namun miskin ketenangan batin.
Dalam pengantarnya, penulis menyampaikan kritik halus terhadap realitas kehidupan saat ini. Ia menegaskan bahwa kegelapan hati bukan semata karena kurangnya ilmu, melainkan karena manusia terlalu sibuk mengejar keinginan dunia hingga melupakan kebutuhan ruhani.
Kajian ini menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, dijelaskan bahwa ilmu tanpa pengamalan justru dapat mengeraskan hati. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa dosa dan perbuatan buruk dapat menutup hati manusia.
Lebih lanjut, penulis mengulas dominasi hawa nafsu dalam kehidupan modern. Perspektif ini diperkuat oleh pandangan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah yang menyatakan bahwa hati akan mati jika terus-menerus dipenuhi syahwat, namun akan hidup jika dilatih menahan keinginan. Dunia, menurutnya, bukan untuk ditinggalkan, tetapi harus dikendalikan.
Aspek pengendalian diri juga dibahas melalui konsep puasa sebagai latihan spiritual. Penulis mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa puasa adalah perisai. Dalam konteks ini, puasa dipahami sebagai sarana untuk menundukkan nafsu dan membangun kesadaran spiritual.
Selain itu, konsep ketenangan hati sebagai pintu menuju makrifat menjadi bagian penting dalam kajian ini. Mengacu pada firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28, penulis menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram. Pemikiran ini diperkuat oleh ungkapan Ibnu Athaillah al-Sakandari yang menyebutkan bahwa hati tidak akan bersinar jika masih dipenuhi bayangan dunia.
Dalam kesimpulannya, kajian ini merumuskan hubungan antara ilmu, amal, dan pengendalian diri sebagai kunci menuju kejernihan hati. Ilmu tanpa kendali nafsu akan membawa kegelapan, sementara keheningan hati membuka jalan menuju makrifat.
Penulis juga mengaitkan konsep ini dengan pendekatan ilmiah modern, khususnya dalam psikologi tentang self-regulation, yang menekankan pentingnya kemampuan mengendalikan dorongan sebagai dasar keseimbangan mental dan spiritual.
Sebagai penutup, kajian ini mengajak umat Islam untuk mengambil jeda dari hiruk-pikuk kehidupan dunia. Dalam keheningan, menurut penulis, ruh menemukan ruangnya kembali, dan di sanalah kedekatan dengan Allah mulai tumbuh.
Kajian ini diharapkan dapat menjadi refleksi sekaligus pengingat bagi masyarakat untuk tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi juga menjaga kejernihan hati dalam menjalani kehidupan.(***)

