Type Here to Get Search Results !

Terobosan Kreatif Kompol Syafrizen. SH.,Polisi dan Ninik Mamak Lengayang: Balimau Jamba Badagang Jadi Solusi Kearifan Lokal Sambut Ramadhan 1447 H.

 Terobosan Kreatif Kompol Syafrizen. SH.,Polisi dan Ninik Mamak Lengayang: Balimau Jamba Badagang Jadi Solusi Kearifan Lokal Sambut Ramadhan 1447 H. 


SKJENIUS TIME LINE, Pessel ---Sebuah terobosan kreatif berbasis kearifan lokal kembali ditunjukkan oleh jajaran kepolisian bersama Ninik Mamak di Nagari se-Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Tradisi “Balimau Jamba Badagang” yang telah berlangsung sejak tahun 2013 hingga kini terbukti menjadi solusi efektif dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan kamtibmas menjelang bulan suci Ramadhan 1447 H.


Kegiatan ini berawal dari keprihatinan seorang Polisi yang ketika itu berpangkat AKP Syafrizen. SH.,Kapolsek Lengayang terhadap kebiasaan sebagian muda-mudi yang menyambut Ramadhan dengan mandi di sungai secara berkelompok, bahkan berpotensi berduaan dengan yang bukan mahram. Selain itu, aktivitas tersebut juga kerap memicu kemacetan lalu lintas serta rawan terjadinya pencurian kendaraan bermotor.


Sebagai langkah antisipatif,Syafrizen bersama  para Ninik Mamak bersama unsur kepolisian menggagas kegiatan Balimau Jamba Badagang yang dilaksanakan di lapangan masing-masing nagari. 


Dalam kegiatan ini, setiap penghulu bersama anak kemenakan menyiapkan “jamba” atau hidangan yang diberi penanda nama datuak masing-masing.


Prosesi dimulai dengan berkumpulnya masyarakat di lapangan, kemudian secara bersama-sama mengelilingi jamba badagang sambil mengikuti ritual balimau. Suasana kebersamaan pun tercipta, diiringi nilai-nilai silaturahmi, saling memaafkan, serta memperkuat persatuan antar kaum.


Tradisi ini merupakan inisiasi dari Kapolsek Lengayang periode 2012–2014, AKP Syafrizen, SH, yang kini menjabat sebagai Wakapolres Pesisir Selatan sejak 3 Maret 2026. Inovasi tersebut terus dilestarikan karena dinilai mampu menghadirkan pendekatan humanis dalam menjaga ketertiban masyarakat.


Sinergi “Tungku Tigo Sajarangan” yang terdiri dari Ninik Mamak, alim ulama, dan cadiak pandai menjadi kekuatan utama dalam menjaga nilai adat dan agama. Dengan semangat “seayun selangkah, saciok bak ayam, sadanciang bak basi”, kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan yang memperkokoh kehidupan sosial masyarakat.


Balimau Jamba Badagang tidak hanya menjadi alternatif positif dalam menyambut Ramadhan, tetapi juga bukti bahwa pendekatan budaya dan kearifan lokal mampu menjadi strategi efektif dalam menciptakan situasi yang aman, damai, dan harmonis di tengah masyarakat.(Mislinda)